Kearifan Lokal Minangkabau
Eksplorasi kumpulan Kato Mamangan dan Pepatah Petitih warisan luhur Minangkabau.
aaa
"a"
a
Daftar Kato Mamangan
Bajalan mamalihara kaki, bakato mamalihara lidah.
"Berjalan memelihara kaki, berkata memelihara lidah."
Berhati-hati dalam setiap tindakan dan senantiasa menjaga lisan agar tidak menyakiti pihak lain.
Nan buto paambuih lasuang, nan pakak palapeh badia.
"Yang buta peniup lesung, yang tuli pelepas bedil."
Prinsip inklusivitas: setiap individu, dengan segala kelebihan maupun kekurangannya, memiliki fungsi dan manfaat dalam masyarakat.
Luruih mambantang jalan ka surga, bana ditanam dalam dado.
"Lurus membentang jalan ke surga, benar ditanam dalam dada."
Ketaatan pada jalan yang lurus akan mengantarkan pada keselamatan akhirat jika kebenaran selalu berakar di hati.
Jan manari di ateh bangkai, jan galak di ateh tangih.
"Jangan menari di atas bangkai, jangan tertawa di atas tangis."
Larangan bersukaria atau mengambil keuntungan di atas musibah dan penderitaan orang lain.
Hiduik bakanduang adaik, mati bakanduang tanah.
"Hidup berkandung adat, mati berkandung tanah."
Selama hidup wajib memegang teguh norma adat, dan selalu sadar bahwa manusia pada akhirnya akan kembali ke tanah (kubur).
Mambagi rasaki jo timbangan, mambagi karajo jo tanago.
"Membagi rezeki dengan timbangan, membagi kerja dengan tenaga."
Prinsip keadilan distributif: memberikan hak sesuai takarannya dan membagi beban tugas sesuai kemampuan/kapasitas.
Jan tajua pusako tinggi, jan mambuang warih lamo.
"Jangan terjual pusaka tinggi, jangan membuang waris lama."
Larangan keras menjual aset komunal kaum dan melupakan garis silsilah/warisan leluhur.
"Tegak berpagar adat, duduk berpagar syariat."
Setiap gerak-gerik, kedudukan, dan keputusan sosial harus dibentengi oleh norma adat dan hukum agama.
Mancari halal di nan nyato, mambuang haram di nan tido.
"Mencari halal di yang nyata, membuang haram di yang tidak (tidak ada/terlarang)."
Komitmen mencari nafkah dari sumber yang jelas kehalalannya serta menjauhi segala hal yang haram dan syubhat.
Saciok bak ayam, sadanciang bak basi.
"Seciap bagai ayam, sedencing bagai besi."
Kesatuan suara, keselarasan sikap, dan kebulatan tekad dalam menjalankan kehidupan bermasyarakat.
Tahu di ujuang sabalun sampai, tahu di pangka sabalun mulai.
"Tahu di ujung sebelum sampai, tahu di pangkal sebelum mulai."
Memiliki visi, rencana yang matang, serta kecerdasan mengantisipasi akhir dari suatu tindakan sejak awal.
Pimpinan adia umat salamaik, panghulu bijak kaum rukun.
"Pemimpin adil umat selamat, penghulu bijak kaum rukun."
Pemimpin yang adil membawa keselamatan dan ketenteraman masyarakat, sedangkan tetua adat yang bijaksana menjaga keharmonisan internal kaum.